Berguru dari Morrie, Membangun Relasi Guru dan Murid

Have you ever really had a teacher? One who saw you as a raw but a precious thing, a jewel that, with wisdoms, could be polished to a proud shine? -hal. 192-

Kutipan di atas merupakan potongan kalimat dari buku karya Mitch Albom yang berjudul Tuesdays With Morrie (1997). Buku ini merupakan kisah hidup Albom selama masa kuliahnya yang dihabiskan dengan pendidikan dari dosennya yang bernama Morris ‘Morrie’ S Schwartz, di Brandeis University, Waltham, Massachusetts.

Morrie di mata Albom adalah sosok guru yang memandang setiap muridnya sebagai sebuah permata yang dengan kebijaksanaannya membuat semua muridnya bersinar dengan membanggakan. Albom masih mengenang semua pertemuannya dengan sang guru bahkan jauh setelah ia lulus dari universitas.

Membaca buku ini bagi seorang guru tentunya dapat memberikan gambaran bahwa Morrie adalah sosok guru yang mampu membangun relasi yang baik dengan para muridnya. Relasi Morrie dengan muridnya ini terbangun karena ia mengajar dengan penuh empati, mau mendengarkan muridnya, penuh perhatian, percaya pada muridnya, dan menjadi contoh bagi muridnya.

Morrie menunjukkan bahwa dalam mengajar tidak hanya sebatas menularkan ilmu. Mengajar tidak sesempit menyuruh anak berhitung, membaca, atau menghafal. Mengajar bagi Morrie adalah proses menularkan gairah dan cinta kepada sesama. Pengajarannya tidak hanya selesai pada teori-teori semata.

Morrie mendidik muridnya dengan terus memberikan kepercayaan dan keyakinan bahwa yang paling penting dilakukan dalam pembelajaran adalah untuk tidak kehilangan rasa kemanusiaan dan cinta. Begitulah relasi guru dan murid terbangun. Morrie menunjukkan cinta kasih dan kemanusiaan dari seorang guru yang mampu menyentuh hati muridnya.

Metode pengajaran Morrie ini sesuai dengan metode pengajaran yang disampaikan oleh Rafe Esquith (2007) dalam bukunya Teach Like Your Hair’s on Fire: The Methods and Madness Inside Room 56. Esquith dalam bagian pertama bukunya menyebutkan bahwa tidak ada tempat yang seperti di rumah oleh karena itu, para guru harus dapat menjadi sosok yang dapat membuat muridnya merasa aman.

Langkah pertama yang harus dilakukan oleh guru adalah dengan memberikan kepercayaan kepada murid, Esquith menyebutkan bahwa pada sistem pembelajaran umumnya anak-anak belajar karena didasari dengan rasa takut. Namun dalam kelas yang Esquith pimpin, pembelajaran berlangsung dengan didasari kepercayaan.

Ketika ketakutan dapat digantikan dengan kepercayaan (replace fear with trust) maka murid akan dapat belajar dengan nyaman. Dengan kenyamanan tersebut, murid akan bergantung kepada guru karena mereka percaya bahwa guru mereka dapat diandalkan. Ini adalah langkah kedua dalam membangun relasi dengan murid yaitu menjadi sosok yang dapat diandalkan.

Kemudian guru juga harus menerapkan aturan yang logis, artinya bahwa setiap pelanggaran yang dilakukan akan diganjar dengan hukuman yang masuk akal dan sesuai dengan tingkat pelanggarannya. Setiap siswa harus menegtahui alasan atas hukuman yang diterimanya. Jika hukuman yang diberikan tidak dapat diterima oleh logika anak, maka kepercayaan yang sudah dibangun di awal akan hilang dan anak pun tidak akan menganggap guru sebagai sosok yang dapat mereka andalkan.

Langkah terakhir adalah dengan menjadi contoh, hal ini sesuai dengan pepatah Jawa yang menyebutkan guru itu digugu dan ditiru. Guru adalah role model yang akan diikuti dan dicontoh setiap tindakannya oleh muridnya. Jadi sebagai sebuah contoh, maka guru harus mengambil langkah pertama. Guru menginginkan anak-anak untuk disiplin dengan waktu maka guru yang harus mengawali dengan datang tepat waktu. Jangan berharap anak akan tepat waktu jika gurunya saja selalu terlambat masuk ke kelas, karena murid akan mencontoh gurunya.

Pada bagian kedua bukunya, Esquith mengungkapkan bahwa dengan kelas yang didasari dengan kepercayaan tanpa ketakutan akan menjadi tempat yang luar biasa bagi murid untuk belajar. Hal ini karena para murid percaya bahwa gurunya akan berlaku adil, dapat diandalkan, dengan keberadaan gurunya mereka akan aman dan akan dapat belajar sesuatu. Inilah yang dilakukan oleh Morrie.

Morrie membangun kepercayaan dengan muridnya, memandang semua muridnya sebagai anak-anak yang berpotensi dan akan bersinar jika diasah dengan penuh kebijaksanaan. Morrie juga adalah pembuktian dari kalimat Henry Adams bahwa peran seorang guru akan memiliki pengaruh yang abadi dan bahkan guru itu pun tidak pernah tahu kapan pengaruhnya akan berhenti.

Maka oleh karena itu, guru bukanlah sebuah pekerjaan yang hanya akan mengantarkan anak mencapai angka-angka yang dipandang sebagai representasi dari pengetahuan mereka. Guru adalah orangtua yang bertanggung jawab di sekolah untuk mengasah anaknya menjadi manusia yang yakin akan kekuatan cinta kasih dan kemanusiaan.

 

Oleh:

Safitri Yulikhah / Guru MTs Andalusia Banjarnegara