Banjarnegara (Humas) – Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Pagentan semakin intensif dalam memberikan bimbingan dan penyuluhan keagamaan di berbagai lini masyarakat. Kali ini, sasaran penyuluhan adalah lingkungan pendidikan anak usia dini, dengan fokus pada tantangan etika anak di tengah arus teknologi.
Penyuluh Agama Islam Fungsional KUA Pagentan, M. Syaiful Abidin, memberikan bimbingan penyuluhan (bimluh) kepada 33 orang peserta yang terdiri dari siswa dan wali siswa TK PGRI Nagasari. Kegiatan ini berlangsung pada Selasa (18/11/2025), bertempat di aula TK PGRI Nagasari.
Mengangkat tema yang sangat relevan dan menjadi kegelisahan banyak orang tua, yaitu “Pengaruh Gawai Terhadap Etika Anak Kepada Orang Tua”, Syaiful Abidin memberikan pemahaman mendalam tentang bagaimana perangkat digital dapat memengaruhi perilaku dan adab anak, terutama dalam interaksi dengan orang tua.
Dalam paparannya, Syaiful menekankan pentingnya peran orang tua sebagai “madrasah” pertama dan utama dalam membentuk karakter anak. Ia menjelaskan bahwa kemajuan teknologi tidak dapat dihindari, namun dampaknya terhadap etika dapat dimitigasi melalui bimbingan dan pengawasan yang bijaksana.
“Gawai bukanlah hal yang salah, tetapi cara penggunaannya yang harus diperhatikan,” tegas Syaiful Abidin kepada para wali siswa. Ia menambahkan, “Mari belajar menggunakan gawai dengan baik, sambil tetap menghormati dan menghargai orang tua sebagai bentuk bakti dan kasih sayang.”
Inti dari penyuluhan ini adalah bagaimana menyeimbangkan antara pengenalan teknologi dan penanaman nilai-nilai moral dan etika, khususnya etika Islam. Anak-anak diajak untuk menjadikan gawai sebagai alat bantu belajar dan kreativitas, bukan sebagai pengganti interaksi sosial dan kepatuhan kepada orang tua. Orang tua didorong untuk membuat aturan penggunaan gawai yang jelas, termasuk batasan waktu dan pengawasan konten.
Kegiatan penyuluhan ini mendapat sambutan baik dari pihak sekolah. Winarsih, selaku Kepala TK PGRI Nagasari, menyatakan bahwa tema yang diangkat sangat tepat untuk menyentuh hati para orang tua di era digital.
“Kami sangat berterima kasih atas bimbingan dari Bapak Syaiful Abidin. Isu tentang gawai dan etika anak ini memang menjadi tantangan terbesar bagi kami di sekolah dan juga di rumah. Pendidikan etika adalah fondasi, dan jika fondasi ini tergerus oleh kecanduan gawai, masa depan anak-anak kita akan terancam. Kami berharap, melalui penyuluhan ini, orang tua dapat menjadi teladan dan lebih tegas dalam mengontrol penggunaan gawai agar anak-anak tidak kehilangan adab serta sopan santun kepada orang tua dan guru,” ujar Winarsih.
Para siswa dan wali siswa yang hadir terlihat antusias mengikuti sesi diskusi, mengajukan berbagai pertanyaan praktis seputar tantangan membatasi gawai pada anak usia dini. Bimbingan penyuluhan ini diakhiri dengan komitmen bersama antara KUA Pagentan, TK PGRI Nagasari, dan wali siswa untuk terus bersinergi dalam membina etika dan moral anak, demi terciptanya generasi yang cerdas secara teknologi namun tetap berakhlak mulia.
(msa/ azd)







