Catatan Akhir Mei 2021

BULAN Mei 2021 merupakan bulan yang istimewa bagi umat muslim karena dalam bulan tersebut ada Perayaan Hari Raya Idhul Fitri 1437 H. Selain itu, tanggal 17 Mei ditetapkan pula menjadi Bulan Buku Nasional. Bangsa Indonesia juga merayakan Hari Kebangkitan Nasional setiap tanggal 20 Mei. Menjadi suatu bahan perenungan dan kajian yang sangat menarik yang pada akhirnya akan kembali menggubah dan menggugah nalar kita untuk terus befikir tentang realitas yang kita alami atau bahkan bangsa kita alami.

Idhul Fitri 1437 H

Selama satu bulan sudah kita menjalankan perintah Allah untuk berpuasa, sebagai wujud ketaqwaan kita. Semoga setiap amalan yang kita lakukan hanya untuk mendapat ridha Allah Swt. Diakhir Ramadhan ada sebuah tradisi yang kita kenal dengan lebaran. Dikutip dari Republika.co.id, (20/5/21) dijelaskan tentang arti dari lebaran, menurut M.A Salmun, seorang budayawan dan sejarawan menjelaskan lebaran berasal dari tradisi hindu yang memiliki makna selesai, usai atau habis.

Kata ini digunakan oleh Walisongo supaya orang yang baru masuk Islam tidak asing dengan berahirnya bulan Ramadhan. Berbeda dari tahun sebelumnya, 2 tahun ini kita merayakan lebaran ditengah-tengah pandemi. Tidak ada mudik, sehingga banyak yang merasakan kerinduan untuk berkumpul bersama keluarga dan menginjungi sanak famili, bahkan rindu akan kampung halaman. Semoga Rindu itu akan tergantikan dengan esensi kembali pada fitrah manusia.

Buku Sebagai Entitas Bangsa.

Sedikit terlambat namun tak apa, kemarin 17 Mei ditetapkan menjadi Hari Buku Nasional. Jika sudah bicara buku, maka tidak akan jauh dari aktifitas membaca dan menulis. Perkembangan teknologi juga telah memberikan wajah baru pada dunia litarasi. Seperti dalam dekade yang lalu, buku masih dalam bentuk cetak, sekarang berkembang menjadi e-book. Kita bisa amati media cetak, sekarang sudah banyak bertransformasi menjadi media online. Lebih cepat dan mudah untuk diakses.

Saya pribadi lebih sering membaca di media online. Namun, pergeseran ini nampaknya memberikan peluang bagi kita untuk lebih mudah mengakses berbagai macam informasi. Namun di Hari Buku Nasional ada hal yang miris dimana Indonesia menduduki peringkat ke-2 dengan minat baca yang rendah, dilansir Compas: 17:5:21. Hal ini sangat kontras dengan data dari bahwa Indonesia merupakan negara dengan buku terbanyak ke-2 di dunia. Ironi memang.

Saya pribadi pun tak rela dengan lebel yang disematkan dari UNESCO, namun jika itu fakta maka itu jadi cambuk untuk kita memperbaiki. Saya kira bangsa kita bukanlah bangsa yang bodoh ataupun malas, nyatanya para founding father kita mampu keluar dari cengkram penjajahan kolonial Belanda. Dari beberapa diskusi saya dengan beberapa kawan, menyimpulkan bahwa daya minat baca rendah adalah karena bukunya yang tidak ada. Bisa dilihat apakah di setiap rumah punya buku bacaan, atau pertanyaanya apakah di setiap madrasah memfasilitasi buku-buku bacaan, ini masing sangat jarang.

Perpustakaan menjadi suatu hal yang langka, buku menjadi hal yang asing. Suatu ketika pernah saya menawarkan buku bacaan kepada seorang kawan, dengan santainya menjawab maaf saya bukan kutu buku yang suka baca. Saya hanya bisa memaklumi. Disini saya hanya ingin berbagi bahwa membaca buku bukanlah suatu yang tabu yang akan mengalienasi diri kita. Justru dengan membaca buku akan banyak manfaatnya antara lain merangsang terjadinya lompatan kecerdasan dan mematangkan emosi kepribadian (Mohammad Fauzil Adhim: 2015: 77)

Kebangkitan Intelektual Bagian Dari Kebangkitan Bangsa

20 Mei diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, dimana organisais Boedi Oetomo (BU) terbentuk pada tahun 1908 oleh sekelompok tokoh terlpelajar dari sekolah kedokteran STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) atau sekolah kedokteran (red) mereka diantaranya Soetomo, Gunawan Mangunkusumo dan Suraji. Pendirian organisasi tersebut sekaligus menandai kebangkitan nasional Indonesia, sebab sejarah saat itu memasuki babak baru yaitu pergerakan nasional (Compas: 20:5:21)

Salah satu fase penting bangsa ini adalah adanya kebangkitan bangsa yang dimulai tanggal; 20 Mei. Bayangkan, Indonesia yang lama tertidur lelap oleh kolonialisme, akhirnya bangkit dari tidur panjangnya pada awal abad ke-20, dengan terbentuknya Budi Utomo sebagai motor penggeraknya. Tentu kunci Kebangkitannya adalah pendidikan, yang membuka mata kaum muda dan membuat mereka bisa mengenali diri dan sekelilingnya dengan cara pandang baru. (Prisma: vol.30: no.2: 2011).

Bertemu Dalam Satu Titik.

Jika Idul Fitri memiliki substansi ruhaniah, hari buku memiliki makna pengasahan intelektual, dan Kebangkitan Nasional memiliki substansi pembaharuan, jadi sangat relevan jika ketiganya dipadukan menjadi sebuah titik penghayatan dan aksi kebangkitan.

Jiwa merupakan unsur terpenting bagi manusia setelah unsur badaniahnya, jiwa pula yang membedakan manusia dengan binatang, tumbuhan dan bebatuan. Semangat Idhul Fitri, harusnya mampu untuk membangkitkan jiwa. Sudah saatnya membangun kesadaran kolektif, bangsa Indonesia harus berlari mengejar ketertinggalan dalam hal literasi.

Dari sejarah, kita dapat mempelajari bahwa kemajuan dan perubahan dicapai oleh para pemuda yang terdidik. Mereka sadar akan keberadaan dirinya dan bangsanya. Kemerdekaan secara jasmani maupun ruhani yang telah kita gapai, seyogyanya tidak menjadikan kita terlelap kembali. Kita perlu membuka mata dengan situasi bangsa kita sekarang. Dengan suasana kebatinan dan semangat kebangkitan, krisis budaya membaca mustinya dapat kita selesaikan, HARI INI..!

 

Oleh Ruliah:

Guru Raudhatul Athfal dan Pendiri Komunitas Rumah Kubaca