Banjarnegara – Dua guru MI Al Fatah Parakancanggah Banjarnegara (MIFABARA) berbagi pengalaman dan hikmah setelah bertugas sebagai petugas upacara pada peringatan Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama. Pengalaman tersebut disampaikan kepada rekan sejawat sebagai bentuk refleksi sekaligus motivasi bersama dalam menjalankan tugas dan amanah sebagai aparatur Kementerian Agama.(10/1)
Guru pertama, Dila, yang bertugas sebagai pembaca Kode Etik Pegawai Kementerian Agama, mengungkapkan rasa bangga dan haru atas kepercayaan yang diberikan kepadanya. Menurutnya, membacakan kode etik di hadapan peserta upacara bukan sekadar menjalankan tugas seremonial, tetapi menjadi pengingat kuat akan tanggung jawab moral sebagai pendidik di lingkungan Kemenag.
“Ketika membacakan kode etik, saya merasa semakin termotivasi untuk terus melaksanakan amanah sesuai dengan nilai-nilai yang tertuang di dalamnya. Ini bukan hanya untuk dibaca, tetapi harus benar-benar diamalkan dalam keseharian,” ujar Dila.
Tidak berhenti sampai di situ, Dila juga aktif mensosialisasikan kembali isi kode etik kepada rekan-rekan guru MIFABARA. Ia mengajak seluruh rekan sejawat untuk saling mengingatkan dan bersama-sama menerapkan kode etik pegawai Kemenag dalam menjalankan tugas sebagai pendidik dan teladan bagi peserta didik.
Sementara itu, guru MIFABARA lainnya, Ibnu, yang dipercaya sebagai pemimpin pleton dalam upacara HAB Kemenag, juga membagikan pengalaman berharga yang ia rasakan. Menurutnya, peran sebagai pemimpin pleton bukan hanya soal barisan dan kedisiplinan, tetapi juga sarat dengan nilai kepemimpinan.
Ibnu menyampaikan filosofi bahwa seorang pemimpin pleton harus mampu memberi contoh, menjaga kekompakan, serta bertanggung jawab terhadap anggota yang dipimpinnya. “Pemimpin tidak berjalan sendiri, tetapi memastikan seluruh anggota bergerak bersama dengan tertib dan tujuan yang sama. Filosofi ini sangat relevan dengan tugas kita sebagai guru,” ungkapnya.
Kepala MIFABARA, Durotun Nafisah, mengapresiasi kedua guru tersebut yang tidak hanya menjalankan tugas dengan baik, tetapi juga mampu mengambil hikmah dan membagikannya kepada rekan sejawat. Menurutnya, pengalaman ini menjadi pembelajaran berharga dalam memperkuat nilai profesionalisme, integritas, dan kepemimpinan di lingkungan madrasah.
Melalui berbagi pengalaman ini, diharapkan seluruh guru MIFABARA semakin termotivasi untuk menjalankan tugas sesuai kode etik, menjunjung tinggi nilai-nilai Kemenag, serta terus meningkatkan kualitas diri sebagai pendidik dan teladan bagi peserta didik.(nas)







