Banjarnegara (Humas) – Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kabupaten Banjarnegara, Feti Sulistiyani, memberikan penyuluhan kepada jemaah Majelis Taklim (MT) ibu-ibu di Desa Kaliwungu, Rabu (16/9/2026). Penyuluhan mengangkat materi “Menjadi Ibu yang Menenangkan Keluarga: Menjaga Lisan, Menguatkan Sabar, dan Membangun Keluarga Harmonis”.
Kegiatan tersebut diarahkan untuk memberikan penguatan pemahaman keagamaan sekaligus membangun kesadaran jemaah mengenai pentingnya peran perempuan dalam menciptakan suasana keluarga yang tenang dan harmonis. Feti mengajak jemaah untuk memulai pembentukan keluarga yang harmonis dari hal-hal sederhana, terutama melalui cara berkomunikasi dengan pasangan dan anak.
Menurut Feti, keluarga merupakan tempat pertama bagi seseorang mendapatkan pendidikan tentang sikap, nilai, dan kebiasaan. Karena itu, suasana yang dibangun di dalam rumah turut memengaruhi perkembangan anggota keluarga.
Dalam penyuluhannya, Feti menekankan pentingnya menjaga lisan. Perbedaan pendapat dalam keluarga merupakan hal yang dapat terjadi, tetapi cara menyampaikannya perlu diperhatikan agar tidak berubah menjadi pertengkaran yang meninggalkan luka.
“Menjaga lisan bukan berarti kita tidak boleh menyampaikan pendapat. Justru kita perlu belajar bagaimana menyampaikan sesuatu dengan cara yang baik, pada waktu yang tepat, dan dengan tujuan memperbaiki keadaan,” jelas Feti.
Ia juga mengajak jemaah untuk membiasakan sikap sabar ketika menghadapi persoalan keluarga. Sabar, menurutnya, bukan berarti membiarkan persoalan tanpa penyelesaian, melainkan kemampuan mengendalikan diri agar dapat mengambil langkah dengan pertimbangan yang baik.
Feti mengingatkan bahwa ibu memiliki peran penting dalam membangun suasana komunikasi di rumah. Ketika menghadapi persoalan, komunikasi yang terbuka dan saling menghargai dapat membantu anggota keluarga memahami satu sama lain.
“Rumah yang harmonis bukan berarti tidak pernah memiliki masalah. Keluarga yang harmonis adalah keluarga yang mau belajar menghadapi masalah bersama, saling mendengarkan, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi perbedaan,” imbuhnya.
Selain menjaga komunikasi, jemaah juga diajak memperkuat kebiasaan positif dalam keluarga, seperti meluangkan waktu untuk berbicara bersama, memberikan apresiasi kepada anggota keluarga, membiasakan doa, serta menciptakan lingkungan rumah yang mendukung tumbuhnya akhlak baik.
Feti menyampaikan bahwa peran ibu dalam keluarga tidak hanya berkaitan dengan urusan rumah tangga, tetapi juga dapat menjadi penguat nilai-nilai keagamaan dan keteladanan bagi anak. Sikap yang ditunjukkan orang tua dalam kehidupan sehari-hari akan lebih mudah ditiru daripada sekadar nasihat yang disampaikan.
Materi penyuluhan tersebut diharapkan memberikan manfaat bagi jemaah dalam menjalankan kehidupan keluarga sehari-hari. Dengan menjaga komunikasi, mengendalikan emosi, memperkuat kesabaran, dan membangun kebiasaan positif, keluarga diharapkan dapat menjadi tempat yang memberikan rasa aman dan ketenangan bagi seluruh anggotanya.
Melalui kegiatan penyuluhan di Majelis Taklim tersebut, Feti juga mendorong jemaah untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan nyata. Nilai-nilai keagamaan diharapkan tidak berhenti pada pemahaman, tetapi diwujudkan melalui perilaku dan hubungan yang baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
(m/azd)







