Banjarnegara (Humas) – Bertempat di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Banjarnegara mengadakan kegiatan pembinaan kepribadian dan keagamaan bagi warga binaan wanita. Mengangkat tema “Fitrah Wanita di Balik Hijrah: Mengaji Ragam Darah dan Tata Cara Bersuci”, kegiatan yang menghadirkan Diah Maziatu Chalida sebagai pemateri di hadapan warga binaan wanita. (4/6/2026)
Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam mengenai fikih wanita, khususnya terkait kesehatan reproduksi dan keabsahan ibadah sehari-hari. Mengingat keterbatasan akses informasi di dalam rutan, edukasi mengenai perbedaan jenis darah yang keluar dari rahim wanita dinilai sangat krusial.
Dalam pemaparannya, Diah Maziatu Chalida menjelaskan secara rinci macam-macam darah wanita yang meliputi darah haid (menstruasi), nifas (pasca melahirkan), dan istihadah (darah penyakit). Ia menekankan bahwa ketidaktahuan dalam membedakan jenis-jenis darah ini dapat berdampak langsung pada sah atau tidaknya ibadah seperti salat dan puasa.
“Banyak wanita yang masih keliru membedakan antara akhir masa haid dan darah istihadah. Akibatnya, ada yang meninggalkan salat padahal sebenarnya sudah wajib salat, atau sebaliknya. Memahami fitrah tubuh kita adalah bagian dari menyempurnakan hijrah dan ibadah kepada Allah,” ujar Diah di hadapan para warga binaan.
Selain mengenali warna dan siklus darah, Diah juga mempraktikkan tutorial tata cara bersuci (mandi wajib) yang benar sesuai tuntunan syariat Islam, mulai dari niat hingga tertib rukunnya.
Para warga binaan wanita tampak sangat antusias mengikuti jalannya acara. Hal ini terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan selama sesi tanya jawab, mulai dari permasalahan siklus haid yang tidak teratur akibat stres, hingga hukum wanita haid membaca Al-Qur’an hafalan.
Kepala Rutan Kelas IIA Banjarnegara menyambut baik dan memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya kegiatan ini. Pihak Rutan berharap pembinaan seperti ini dapat menjadi bekal spiritual dan pengetahuan praktis bagi warga binaan, baik selama menjalani masa pidana maupun setelah bebas nanti.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para warga binaan wanita tidak hanya mengalami perubahan perilaku ke arah yang lebih baik (hijrah), tetapi juga memiliki pemahaman fikih yang matang untuk menjaga kesucian diri dan kekhusyukan ibadah mereka.
(Dmc/azd)







