Banjarnegara (Humas )- Ibu-ibu Penyuluh Agama Fungsional mengikuti Istighosah dan Pengajian Bulanan yang diadakan oleh Darwa Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama Pusat dengan tema : Relasi Syari’at dan Hakikat oleh Dr.KH.Akhmad Sodiq,MA, secara daring di Ruang Rapat Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banjarnegara pada Kamis (08/08/2024 ).
Kegiatan ini diawali dengan pembukaan membaca basmalah, menyanyikan Indonesia Raya dan Mars Darma Wanita dilanjutkan dengan pembacaan Ayat Suci Al Qur’an .
Hida Syifa Ramdani , selaku panitia menyampaikan laporan pelaksanaan yaitu bahwa , kegiatan ini dilaksanakan secara offline dan online. Peserta offline berjumlah 250 orang terdiri dari Pengurus DWP Kemenag Pusat, DWP Kanwil, MT dan anak-anak yatim. Sedangkan yang online dari seluruh pengurus dan anggota DWP Kemenag Kota / Kabupaten, Perguruan Tinggi Islam Negari, murid, santri, madrasah dan pondok pesantren.
Tak lupa Hida, menyampaikan terima kasih kepada penasihat DWP Kemenag Ibu Eny Retno Yaqut, ‘’ saya mengucapkan terima kasih yang setulus-tulus kepada penasihat Ibu Eni Retno Yaqut atas segala support, motivasi dan bimbingan atas semua program DPW Kemenag Pusat ‘’ ucapnya.
Dalam kesempatan ini Eny memberikan sambutan dan pembinaan. Eny mengapresiasi kegiatan ini dan mengucapkan pada seluruh panitia yang telah menyiapkan segalanya sehingga acara ini dapat berjalan dengan lancar dan sukses. Ucapan terima kasih juga disampaikan pada seksi Bimas Kristen, Katolik, Hindu serta Budha yang telah ikut serta membantu kelancaran penyelenggaraan kegiatan ini.
Lebih lanjut Eny, memohon istighosah ini untuk mendoakan negara Indonesia senantiasa diberikan kedamaian dan kesejahteraan, untuk seluruh keluarga besar Kementerian Agama, ‘’ saya mohon doa khusus untuk Menteri Agama dan Wakil Menteri diberikan kesehatan, kekuatan lahir batin dan dijauhkan dari fitnah dunia, ‘’ harapnya.
Dr. KH. Akhmad Shodiq , MA memimpin istighosah dilanjutkan menyampaikan pengajian tentang relasi syariat dan hakikat. Beliau menjelaskan bahwa selama ini ada sebagian ahli, syariat dan hakikat ditempatkan pada posisi yang paradoks dan dinilai sebagai dua dimensi yang saling berjauhan. Padahal syariat dan hakikat bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunah. Oleh karena itu keduanya memiliki relasi yang kuat.
Beliau menjelaskan lebih lanjut ‘’ barang siapa hanya menjalankan syariat meninggalkan hakikat maka akan berbuat fasik , sebaliknya ketika hanya memegang hakikat menyelisihi syariat maka dia akan zind ik, karena sesungguhnya syari’at merupakan aspek lahir dan hakikat merupakan aspek batin,. Aspek lahir dan aspek batin tidak bisa dipisahkan harus saling mengisi dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah ‘’ tuturnya. (Yi/La)







