Banjarnegara – Perkalian kerap menjadi materi pelajaran yang sulit bagi siswa sekolah dasar karena konsepnya yang masih abstrak. Hal ini disadari benar oleh Rini Susanti, Guru Kelas 3 di MI Miftahul Mubtadi’in (MIMUB). Pada Rabu, 1 Oktober 2025, ia memanfaatkan lingkungan sekitar untuk membuat pembelajaran lebih nyata. Rini menggunakan batu kerikil sebagai alat bantu untuk mempraktikkan perkalian bilangan cacah secara konkret.
“Menjelaskan konsep perkalian sebagai dasar operasi hitung yang lain memang menjadi tantangan yang sulit. Saya menggunakan batu supaya anak-anak lebih mudah memahami konsep perkalian bilangan cacah,” ujar Rini saat ditemui di sela-sela kegiatan pembelajaran. Dengan memanfaatkan benda di sekitar, pembelajaran matematika yang biasanya dianggap rumit menjadi lebih hidup dan menyenangkan.
Semua siswa terlihat antusias ketika menghitung perkalian menggunakan batu, dibanding hanya mengerjakan lembar soal. Rafa, salah satu siswa, mengungkapkan kesannya, “Lebih mudah menghitung pakai batu. Kalau pakai jari saja kadang lupa hitungannya.”
Selain media batu kerikil, Rini juga mengombinasikan pembelajaran dengan group game atau permainan kelompok. Siswa dibagi menjadi kelompok berisi empat orang untuk menyelesaikan soal-soal perkalian dengan jumlah yang lebih banyak. Melalui cara ini, suasana kelas menjadi lebih aktif, penuh semangat, dan kompetitif secara sehat.
“Padahal saya selesainya kedua, tapi banyak yang betul jawabannya jadi peringkatnya terbaik,” kata Adila, siswa yang tampak sangat senang dengan permainan kali ini.
Dengan pendekatan visualisasi langsung dan permainan kelompok, diharapkan siswa lebih mudah memahami konsep perkalian. Metode ini bukan hanya membantu siswa lebih cepat menangkap pelajaran, tetapi juga membuat pembelajaran matematika terasa lebih menyenangkan. Inovasi sederhana seperti yang dilakukan Rini Susanti menjadi contoh bagaimana memanfaatkan lingkungan sekitar dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas. (rs)







