Banjarnegara – Kegiatan Panen Karya P5RA MTs Negeri 1 Banjarnegara kembali menghadirkan momen berkesan melalui penampilan yel-yel kreatif dari para siswa. Tahun ini, kelas 8A meampilkan yel-yel yang energik, kuat, dan menyampaikan pesan edukatif bertema “MARI BERANI: Membangun Remaja Indonesia Berencana dan Anti Pernikahan Dini.”
Di lapangan indoor Madtsansa siswa-siswi kelas 8A menampilkan yel-yel penuh semangat yang memadukan vokal lantang, koreografi kompak, serta pesan moral yang disampaikan dengan lugas. Sejak aba-aba pertama diberikan oleh pemimpin yel-yel, gemuruh suara
“kondisi lagi gacor, ketua!” langsung menyita perhatian para penonton dan juri. Mereka kemudian menyambung dengan seruan ajakan penuh makna, seperti “yang di sini jangan nikah muda!” dan “kami siswa-siswi, cegah pernikahan dini” yang dikutip langsung dari naskah yel-yel mereka.
Unsur edukasi dalam yel-yel kelas 8A terasa semakin kuat ketika mereka meneriakkan baris motivatif:
“Mo skip dulu nikah muda, utamakan cita-cita. Sekolah dulu, kuliah dulu, sukses dulu.”
Seruan ini disambut riuh tepuk tangan para penonton karena penyampaiannya yang tegas namun tetap ceria. Pesan itu kemudian dipertegas lagi dengan bait
“Pikir yang matang dulu, jangan terburu-buru. Kita kan generasi maju.”
Bagi tim penilai, penampilan ini bukan hanya menghibur, tetapi juga menunjukkan kedewasaan pandangan siswa terhadap isu sosial. Hj. Amri Inayati, salah satu juri, menilai bahwa kelas 8A mampu menampilkan kekompakan sekaligus menyampaikan pesan penting dengan cara yang mudah diterima remaja.
“Yel-yel 8A sangat kuat pesan moralnya. Mereka tidak hanya kompak, tapi juga berhasil mengemas edukasi tentang perencanaan masa depan dan bahaya pernikahan dini dalam format yang menyenangkan. Ini penampilan yang sangat menginspirasi,” ujarnya.
Senada dengan itu, Ki Sarno, juri lainnya, memuji keberanian dan kreativitas kelas 8A dalam memadukan seni pertunjukan dengan konten edukatif.
“Anak-anak ini luar biasa. Mereka menyampaikan pesan berat dengan cara yang ringan dan penuh energi. Unsur vokal, gerak, dan pesan semuanya berpadu serasi. Ini contoh ideal dari pembelajaran berbasis projek,” katanya.
Dua siswi kelas 8A, Lituhayu dan Aisyamara, menyampaikan rasa bangga setelah tampil. Bagi mereka, persiapan panjang yang dimulai sejak beberapa minggu lalu terbayar lunas.
Lituhayu mengungkapkan:
“Awalnya kami grogi, tapi begitu musik yel-yel diputar, kami langsung semangat. Kami ingin menunjukkan bahwa remaja juga bisa bersuara tentang hal penting seperti menunda pernikahan dini.”
Aisyamara menambahkan bahwa proses latihan menjadi pengalaman berharga bagi dirinya dan teman-temannya.
“Kami belajar kerja sama, disiplin, dan keberanian tampil. Tapi yang paling penting, kami belajar bahwa masa depan harus direncanakan dengan matang. Yel-yel ini bukan sekadar lomba, tapi juga pesan untuk diri kami sendiri.”
Wali kelas 8A, Widi Widayati, tampak sangat bangga melihat siswanya tampil percaya diri dan mampu menyampaikan pesan positif tentang remaja berencana.
“Saya sangat terharu melihat mereka tampil sebaik itu. Mereka bukan hanya menunjukkan bakat, tetapi juga pemahaman tentang tema yang diangkat. Ini bukti bahwa projek P5RA memberikan dampak nyata bagi perkembangan karakter siswa,” ujarnya.
Ia berharap penampilan ini menjadi pemicu semangat bagi kelas 8A untuk terus berkarya dan berani menyuarakan hal-hal positif lainnya.
Penampilan kelas 8A ditutup dengan seruan “Siapa kita? Generasi emas, penerus bangsa, dari Madtsansa!” disusul pekikan penuh kebanggaan: “MENYALA QUEEN!”
Sorak-sorai penonton mengiringi langkah mereka turun dari panggung, meninggalkan kesan mendalam tentang semangat remaja yang berani bermimpi dan menolak pernikahan dini.
Melalui performa kreatif ini, kelas 8A tidak hanya mencuri perhatian, tetapi juga menegaskan bahwa generasi muda memiliki suara kuat dalam membangun masa depan Indonesia yang lebih terencana, cerdas, dan berdaya. (Fy)







