Banjarnegara – Sebagai upaya pembentukan karakter siswa dalam bidang spiritual, kelas 1 A MI Ma’arif Al Falah Joyokusumo menerapkan penggunakan papan pendisiplinan sholat lima waktu. Penggunaannya yang menarik dan sederhana ini mampu meningkatkan semangat dan motivasi siswa untuk melaksanakan sholat lima waktu. Meski belum termasuk usia baligh, namun para siswa tetap harus diajarkan untuk melaksanakan sholat lima waktu
Berdasarkan penuturan dari wali kelas 1 A, Anisa Nur Azizah, penggunaan papan pedisiplinan sholat 5 waktu ini sangatlah mudah untuk digunakan oleh anak kelas 1 A ditambah dengan posisi papan yang diletakan di tembok sebelah pintu masuk semakin memudahkan anak untuk menggunakannya. Cara menggunaanya ialah setiap anak memberi tanda centang pada papan pendisiplinan dengan menggunakan spidol sesuai dengan namanya. Anak mencentang sholat apa saja yang telah dilaksanakan di hari sebelumnya, baik itu sholat yang dilaksanakan di rumah maupun di sekolah.
“Penggunaannya gampang, siswa tiap hari mencentang menggunakan spidol sholat apa saja yang sudah terlaksana. Sholat yang dicentang itu sholat yang dilakukan di hari sebelumnya”, ujar Anis.
Dengan adanya papan pendisiplinan yang mudah dalam penggunaannya, mampu meningkatkan semangat dan motivasi siswa untuk melaksanakan sholat lima waktu. Hal ini terbukti dengan persentasi dari sebelum dan sesudah adanya papan pendisiplinan sholat lima waktu ini. Dimana sebelum adanya papan pendisiplinan sholat lima waktu, hanya sekitar 50% saja siswa yang melaksanakan sholat lima waktu. Namun, Anis mengatakan setelah adanya papan pendisiplinan sholat lima waktu yang ini, jumlah siswa yang melaksanakan sholat lima waktu meningkat menjadi 77%.
“Sebelum ada papan pendisiplinan sholat lima waktu ini, siswa yang sholat itu cuma 50% aja. Tapi begitu saya bikin papan pendisiplinan sholat ini, siswa yang sholat lima waktu itu jadi meningkat jumlah, peningkatannya itu saya katakan 77%. Lebih banyak dari sebelum ada papan ini”, ujarnya.
Selain mendorong semangat dan motivasi siswa untuk lebih rajin dalam beribadah. Anis mengatakan jika penggunaan papan pendisiplinan ini mampu memberikan perubahan yang cukup terasa di kelas 1 A. Perubahan yang dirasa ketika sebelum papan pendisiplinan sholat dibuat, siswa yang tidak melaksanakan sholat 5 waktu tidak merasakan apapun. Tetapi, begitu papan pendisiplinan sholat lima waktu dibuat, siswa yang tidak melaksanakan sholat lima waktu merasa malu kepada teman-temannya. Dari hal seperti inilah motivasi untuk lebih rajin beribadah itu muncul.
“Perubahan pada siswa ada. Siswa jadi lebih rajin sholat. Terus bagi siswa yang tidak melaksanankan sholat itu mereka itu merasa malu ke teman – temannya”, ujar Anisa.
Anisa juga mengatakan jika penggunaan papan pendisiplinan sholat 5 waktu ini sangat efisien dan memberikan manfaat yang besar. Manfaat yang dirasa ialah siswa menjadi lebih disiplin dalam melaksanakan shilat lima waktu. Meski terlihat sederhana, namun hal ini justru lebih mengena dan diingat oleh para siswa kelas 1 A. Anisa pun berharap dengan adanya papan pendisiplinan sholat lima waktu ini dapat melatih dan membiasakan siswa untuk melaksanakan sholat lima waktu sejak dini. Sehingga jika tanpa adanya papan pendisiplinan sholat lima waktu ini anak akan tetap melaksanakan sholat lima waktu. Mengingat sholat 5 waktu ini menjadi bagian dari kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap orang muslim di dunia. (RN)







