Menangkal Radikalisme, Ekstrimisme dan Terorisme

PERISTIWA ledakan bom di depan Gereja Katedral Makassar (28/3/), telah membuat gempar masyarakat di Indonesia. Kabar kejadian ini menyebar dengan cepat melalui media online dan media sosial. Masyarakat mengecam. Pihak kepolisian langsung melakukan penyelidikan dan berhasil menemukan fakta-fakta dari kejadian ini. Kita prihatin dan mengutuk keras aksi radikalisme, ekstrimisme dan radikalisme yang memprihatinkan tersebut.

Sejatinya radikalisme adalah paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis. Radikalisme menjungkirbalikkan nilai-nilai yang ada, ciri-cirinya adalah mereka intoleran atau tidak memiliki toleransi pada golongan yang memiliki pemahaman berbeda di luar golongan mereka, mereka juga cenderung fanatik, eksklusif dan tidak segan menggunakan cara-cara anarkis.  

Sementara kelompok ekstrimis merupakan kelompok yang menganut paham kekerasan ekstrim. Dibandingkan radikalis, ekstrimis cenderung berpikiran tertutup, tidak bertoleransi, anti-demokrasi dan bisa menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan mereka. Kelompok ekstrimis juga berpikiran tertutup. Kelompok ini berbeda dengan kelompok radikalis, kelompok yang menganut paham radikal atau radikalisme. 

Sedangkan terorisme menurut UU Nomor 15 Tahun 2003, adalah penggunaan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan situasi teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas dan menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas harta benda orang lain, yang mengakibatkan kerusakan atau kehancuran obyek-obyek vital strategis, lingkungan hidup, fasilitas publik dan fasilitas negara.

Seseorang atau kelompok radikalis dapat mengalami perubahan menggunakan cara-cara ekstrim, Dalam kekerasan ekstrim melalui aksi teror dipengaruhi banyak hal. Mulai dari pengaruh faktor yang bersifat internasional seperti ketidakadilan global, politik luar negeri yang arogan, dan penjajahan. Selain itu juga dipengaruhi faktor domestik seperti persepsi ketidakadilan, kesejahteraan, pendidikan, kecewa pada pemerintah, serta balas dendam. Di luar faktor internasional dan domestik, faktor lainnya adalah faktor kultural, yaitu karena pemahaman agama yang dangkal, penafsiran agama yang sempit dan tekstual, dan indoktrinasi ajaran agama yang salah.

Kita sepakat ekstrimisme, radikalisme dan terorisme merupakan ideologi yang bertentangan dengan pandangan masyarakat dan negara, maka perlu ada upaya yang sistematis untuk mengatasinya.

Pertama, melalui pendidikan. pendidikan perlu mengedepankan pendekatan karakter budaya Indonesia yang terkenal ramah tanpa kekerasan. sifat ramah dan nilai-nilai karakter budaya yang dimiliki bangsa Indonesia sudah lama mengakar sepatutnya di cangkokkan dalam semua mata pelajaran, tidak melulu mapel agama, PKN ataupun akidah akhlak.

Kedua, melakukan kampanye-kampanye Islam Rahmatan lil ‘alaminn, Islam ramah, Islam Subtanstif, Islam santun dan sejenisnya baik di dunia maya melalui website, Whatsap, facebook, IG, twiter dan sejenisnya maupun nyata,  terutama kerja sama penguatan pemikiran kebangsaan antar organisasi-organisasi Islam. Di Banjarnegara terdapat persyarikatan SI, Muhammadiyah dan NU yang setiap bulan mengadakan acara pengajian bersama secara bergilir, dan berkala merupakan langkah strategis untuk membentengi gejala ekstrimisme radikalise dan terorisme.

Ketiga, melakukan pembinaan keluarga. Keluarga yang sakinah mawaddah warohmah mempunyi peran yang vital. Kalau dulu orang tua khawatir kalau anak-anak nonton film yang berbau kekerasan, sekarang justeru kita khawatir kalau anaknya ikut pembinaan keluarga oleh pengajian tertentu, keluarganya nanti jadi teroris. Maka perlu kehati-hatian pembinaan keluarga melalui pengajian yang “tertutup” atau tidak terbuka untuk umum,  siapa kawannya, apa  latar belakang pendidikan, pengajarnya mengajarkan kedamaian apa kebencian atau, bagaimana kiprah kemaslahatan di masyarakat seperti apa?. Hal ini sangat penting untuk menimalisir masuknya  idiologi yang yang merusak tersebut.

Keempat melalui penugasan dai dan mubaligh ke tempat atau intansi tertentu untuk memberikan pencerahan pemahaman cara beragama yang benar dengan materi cinta tanaih air, menjaga hablumminallah dan hablumminannaas, menjelaskan apa itu jihad dalam Islam, sehingga diharapkan  masyarakat tidak lagi memiliki pemahaman keagamaan yang radikal, ekstrem dan teror yang dianggap ekstrem radikal oleh penganut agama secara umum.

Yang tidak kalah penting sekarang jaringan kelompok radikalis, kelompok ekstrimis dan teroris telah menyasar melalui kontak di medsos dan berlanjut di pertemuan offline. Penyebaran paham radikalis, ekstrimis dan perekrutan teroris dilakukan melalui website, media sosial dan messanger, maka wasapadalah.

 

Oleh

 A. Nafis Atoillah / Waka Humas MTs N2 Banjarnegara