Mengetuk Hati di Rebo Manis: Menjaga Halal dan Lisan, Kunci Meraih Rida Ilahi

Banjarnegara (Humas) — Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Wanadadi terus menguatkan peran pembinaan keagamaan masyarakat melalui kegiatan penyuluhan yang menyentuh aspek mendasar kehidupan umat. Hal ini tampak dalam kegiatan Pengajian Rutin “Rebo Manis” di Majelis Taklim Al Hidayah Dusun Curug, Desa Linggasari, Rabu (29/4/2026), yang diisi oleh Penyuluh Agama Islam KUA Wanadadi, Khasan, Arif Kholdun, dan Tugiran.

Dalam kegiatan tersebut, KUA Wanadadi melalui para penyuluh menegaskan bahwa menjaga kehalalan makanan dan lisan merupakan kunci utama dalam meraih Rida Allah Swt. Materi yang disampaikan tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga menyentuh realitas kehidupan masyarakat sehari-hari.

Mengacu pada kitab Minahus Saniyah karya Syaikh Abdul Wahhab Asy-Sya’rani, dijelaskan bahwa perilaku menyakiti orang lain, baik secara lisan maupun perbuatan, menjadi penghalang turunnya rahmat Allah Swt. Bahkan, orang yang tidak memiliki rasa belas kasih kepada sesama, tidak akan memperoleh kasih sayang dari Allah.

KUA Wanadadi memandang bahwa fenomena masih kurangnya kesadaran terhadap pentingnya makanan halal dan etika dalam berinteraksi sosial perlu terus direspon dengan pendekatan pembinaan yang berkelanjutan. Oleh karena itu, pengajian rutin seperti ini menjadi sarana strategis dalam membangun kesadaran kolektif umat.

“Seringkali kita fokus pada ibadah lahiriah, tetapi lupa menjaga apa yang masuk ke dalam tubuh dan apa yang keluar dari lisan kita. Padahal, keduanya sangat menentukan diterima atau tidaknya amal,” ungkap Khasan di hadapan jamaah.

Materi yang disampaikan juga menyoroti bahwa makanan yang tidak halal bukan hanya berdampak pada jasmani, tetapi juga mengeraskan hati dan menghalangi doa. Hal ini diperkuat dengan pendapat ulama yang menyebutkan bahwa ibadah seseorang bisa menjadi tidak bermakna apabila tidak memperhatikan kehalalan rezekinya.

Arif Kholdun menambahkan, “Menyakiti orang lain, meskipun hanya dengan ucapan, dapat menjadi sebab tertutupnya pintu rahmat Allah. Orang yang tidak memiliki belas kasih, tidak akan mendapatkan kasih sayang dari Allah Swt.”

Sementara itu, Tugiran menegaskan pentingnya menjaga hati sebagai pusat kendali perilaku. “Hati yang bersih akan melahirkan ucapan dan tindakan yang baik. Sebaliknya, hati yang kotor dapat menjadi sumber dari berbagai perilaku yang menyakiti orang lain,” jelasnya.

Para jamaah terlihat antusias mengikuti pengajian, terlebih ketika disampaikan contoh-contoh praktis dalam kehidupan sehari-hari, seperti menjaga ucapan, memahami rukun shalat, serta membiasakan menerima setiap pemberian Allah dengan penuh syukur.

Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi pengingat bagi masyarakat untuk senantiasa menjaga diri dari hal-hal yang dapat menghalangi rahmat Allah Swt. Dengan memperbaiki konsumsi dan perilaku terhadap sesama, diharapkan setiap amal ibadah yang dilakukan menjadi lebih bermakna dan diterima di sisi-Nya.

Sebagai penutup, penyuluh mengajak seluruh jamaah untuk terus memperkuat keimanan dan memperbaiki akhlak dalam kehidupan sehari-hari. “Mari kita jaga hati, lisan, dan apa yang kita konsumsi, agar hidup kita senantiasa dalam naungan Rida Allah Swt,” pungkas Arif.

Kegiatan berlangsung dengan lancar, penuh kekhidmatan, dan diakhiri dengan doa bersama sebagai harapan agar ilmu yang diperoleh dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari secara nyata.

(NN/azd)

Skip to content