Mengubah Duka Menjadi Kekuatan: KUA Pagentan Bedah Makna ‘Amul Huzni’ Bersama Ibu-Ibu Aisyiyah Metawana

Banjarnegara (Humas) – Kantor Urusan Agama (KUA) Pagentan kembali menunjukkan perannya sebagai garda terdepan dalam pembinaan mental masyarakat. Pada Jumat (9/1/2026), suasana di Aula Masjid Baiturrahman Desa Metawana tampak khidmat saat puluhan jamaah Majelis Taklim (MT) ‘Aisyiyah berkumpul untuk merenungkan kembali peristiwa besar dalam sejarah Islam, yakni Isra Mikraj.

Berbeda dengan sekadar seremoni rutin, bimbingan penyuluhan kali ini mengangkat tema yang sangat relevan dengan realitas kehidupan: “Tahun Kesedihan: Kisah Getir di Balik Perjalanan Isra Mikraj”. M. Syaiful Abidin, Penyuluh Agama Islam dari KUA Pagentan, hadir sebagai pemateri utama yang mengupas sisi emosional dari perjuangan Nabi Muhammad saw.

Dalam paparannya, Syaiful menyoroti fase Amul Huzni atau Tahun Kesedihan, di mana Rasulullah saw., kehilangan dua sosok pelindung utama, yakni sang istri tercinta Siti Khadijah dan pamannya Abu Thalib. Kehilangan ini terjadi di tengah gencarnya tekanan dari kaum kafir Quraisy, menciptakan beban mental yang sangat berat bagi beliau.

“Isra Mikraj adalah hadiah hiburan sekaligus pembuktian kasih sayang Allah saat hamba-Nya berada di titik nadir. Kita belajar bahwa kesedihan tidak boleh menghentikan langkah, karena setelah kesulitan pasti ada kemuliaan,” ujar Syaiful di hadapan 40 jamaah yang hadir.

Ia menekankan bahwa tantangan yang dihadapi ibu-ibu saat ini mulai dari dinamika ekonomi keluarga hingga pendidikan anak memerlukan ketangguhan spiritual yang serupa dengan yang dicontohkan Rasulullah.

Kehadiran tim penyuluh KUA Pagentan disambut hangat oleh warga. Suparni, selaku Ketua MT ‘Aisyiyah Ranting Metawana, mengungkapkan bahwa materi ini memberikan sudut pandang baru yang mencerahkan bagi para jamaah.

“Seringkali kita merasa ujian hidup begitu berat. Melalui refleksi Amul Huzni ini, kami diingatkan bahwa ujian adalah proses kenaikan kelas secara spiritual. Kami merasa lebih dikuatkan secara mental,” ungkap Suparni.

Kegiatan yang diakhiri dengan diskusi interaktif dan doa bersama ini menegaskan re-branding KUA yang tidak lagi hanya dikenal sebagai tempat pendaftaran nikah. KUA Pagentan berkomitmen untuk terus terjun ke pelosok desa guna memberikan bimbingan moral dan edukasi agama yang inklusif.

M. Syaiful Abidin berharap melalui pemahaman sirah nabawiyah yang mendalam, masyarakat Metawana dapat tumbuh menjadi pribadi yang religius dan memiliki ketahanan mental yang kokoh dalam menghadapi tantangan zaman di tahun 2026 ini. 

(msa/ azd)

Skip to content