Moderator Novia Fajriati Alqomar Sukses Kawal IHT Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta MTsN 1 Banjarnegara

Banjarnegara – MTs Negeri 1 Banjarnegara kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pembelajaran melalui penyelenggaraan In House Training (IHT) Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) pada Kamis (11/12), menghadirkan narasumber utama  H. Junaidi, widyaiswara ahli utama dari Balai Diklat Keagamaan Semarang. Kegiatan yang berlangsung penuh antusiasme ini dikawal dengan sangat baik oleh moderator Novia Fajriati Alqomar, yang dinilai berhasil menjaga dinamika dan semangat peserta sepanjang kegiatan.

Kegiatan dimulai sejak pagi dengan suasana hangat. Moderator Novia membuka jalannya acara dengan penuh energi dan selingan interaksi yang membuat para peserta tetap fokus. Di hadapan para guru, ia menegaskan bahwa IHT kali ini bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan proses penyegaran batin sekaligus penguatan etos kerja berlandaskan cinta dalam proses pendidikan.

“Kurikulum Berbasis Cinta mengajarkan kita bahwa di balik modul ajar dan angka-angka nilai, ada hati yang harus kita sentuh. Guru tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga energi positif yang mampu membentuk karakter peserta didik,” ungkap Novia dalam salah satu pengantarnya.

Selama sesi pertama, Dr. Junaidi menyampaikan penguatan nilai-nilai KBC, mulai dari filosofi, tujuan, hingga strategi implementasi di kelas. Moderator membawa suasana tetap hidup dengan menghubungkan materi dengan pengalaman sehari-hari guru, serta tetap menjaga ritme diskusi agar mengalir dan interaktif.

Koordinator acara, Linara, menilai peran moderator menjadi salah satu kunci keberhasilan IHT hari itu.

“Bu Novia berhasil membuat suasana pelatihan sangat hidup. Beliau mampu menjaga fokus guru, bahkan setelah sesi istirahat. Energinya luar biasa dan sangat membantu keberlangsungan acara dari awal sampai akhir,” ujarnya.

Sementara itu, ketua panitia IHT, Hj. Yuniyati, menyampaikan rasa syukur atas kelancaran kegiatan serta kontribusi semua pihak.

“Junaidi memberikan materi yang sangat menyentuh dan aplikatif, sementara moderator mampu menghubungkan materi tersebut dengan kondisi nyata para guru. Kolaborasi keduanya membuat IHT ini benar-benar bermakna bagi seluruh peserta,” tutur Yuniyati.

Salah satu keunggulan jalannya IHT adalah interaksi yang diciptakan moderator. Melalui sesi pengecekan fokus, permainan sederhana, hingga ice breaking setelah makan siang, Novia berhasil menjaga antusiasme guru tetap tinggi mengantisipasi rasa kantuk maupun kejenuhan yang biasa muncul pada pelatihan seharian penuh.

Narasumber utama,  H. Junaidi, turut mengapresiasi kerja moderator.

“Moderator hari ini bekerja sangat baik, mampu memandu suasana kelas dengan profesional dan menyenangkan. Materi bisa tersampaikan dengan nyaman karena suasana yang diciptakan moderator sangat positif,” ungkapnya.

Dalam sesi kedua, peserta diajak mempraktikkan penyusunan RPP KBC sebagai langkah implementatif. Para guru terlihat antusias dan aktif berdialog baik dengan pemateri maupun moderator.

Salah satu peserta IHT, Kasum, menyampaikan bahwa pendekatan yang digunakan dalam pelatihan terasa berbeda.

“Suasananya hidup, mudah dipahami, dan membuat kami merasa terlibat penuh. Moderator membantu kami tetap fokus, terutama dengan penyampaian yang komunikatif. Pelatihan ini benar-benar membuka mata kami tentang pentingnya menghadirkan cinta dalam proses belajar,” ujarnya.

Kasum juga menegaskan bahwa materi KBC sangat relevan dengan tantangan pendidikan masa kini, terutama dalam menguatkan karakter peserta didik.

Menutup kegiatan, moderator kembali merangkum inti pelatihan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta tidak hanya berbicara tentang metode, tetapi juga tentang keikhlasan dan ketulusan guru dalam mendidik.

“Kita disadarkan bahwa mengajar bukan sekadar pekerjaan intelektual, tetapi juga pekerjaan hati. Madrasah harus menjadi rumah kedua yang penuh kehangatan dan makna,” tutur Novia.

IHT kemudian ditutup dengan harapan besar agar guru-guru MTsN 1 Banjarnegara dapat menerapkan nilai-nilai KBC dalam setiap aktivitas pembelajaran. Dengan keberhasilan penyelenggaraan kegiatan ini, madrasah optimis dapat terus menghadirkan pendidikan yang lebih manusiawi, penuh kasih, dan berdampak positif bagi perkembangan peserta didik. (Lin)

Skip to content