Penyuluh Banjarnegara Ikuti Workshop Moderasi Beragama Berbasis Keluarga

Banjarnegara – Penyuluh Agama Islam Fungsional (PAIF) Kabupaten Banjarnegara Yani Itsnawati dan Hendriyanto mengikuti Workshop Moderasi Beragama Berbasis Keluarga pada hari Ahad-Rabu, tanggal 4-7 April 2021 di Hotel Orchazd Jayakarta, Jl. Pangeran Jayakarta NO 44 Mangga Dua Selatan Sawah Besar Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta. Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan 100 KUA Piloting Revitalisasi Layanan KUA dari seluruh Indonesia.

Ketua Panitia, Adib Mahrus yang juga Kasubdit Bina Keluarga Sakinah dalam sambutannya menyampaikan bahwa tujuan acara ini adalah membekali petugas layanan KUA dalam melaksanakan bimbingan dan pelayanan bagi masyarakat,

“Tentunya juga untuk meningkatkan pemahaman perspektif moderasi beragama berbasis keluarga dan meningkatkan kualitas serta layanan dalam menjalankan tupoksi bimbingan keluarga Sakinah,” ungkapnya.

Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Islam, Kamarudin Amin mengatakan dalam pidato pengarahan bahwa untuk mewujudkan Revitalisasi KUA maka diharapkan KUA memberikan pelayanan yang berkualitas dan modern. Beliau menambahkan isu yang penting saat ini adalah moderasi beragama berbasis keluarga. “Para penghulu dan penyuluh harus mengambil peran ini karena saat ini isu ekstremisme sudah masuk ke ranah keluarga,” terangnya.

Sebagai narasumber Lukman Hakim Saefuddin, Menteri Agama periode 2014- 2019, menanyakan kepada peserta “Mengapa kita, bangsa Indonesia khususnya membutuhkan perspektif moderasi dalam beragama?

Beliau menerangkan bahwa ada tiga alasan moderasi beragama. Pertama, Indonesia adalah negara majemuk dengan beragam agama, bahasa, suku, etnis, budaya dan keragaman lainnya. Upaya untuk menyeragamkan meruapakan mengingkari realitas dan sunatullah.

“Kedua yaitu esensi kehadiran agama adalah untuk menjaga martabat manusia sebagai makhluk mulia ciptaan Allah, termasuk untuk tidak menghilangkan nyawanya. Yang ketiga yakni teks-teks agama mengalami multitafsir, kebenaran menjadi beranak pinak, sebagai pemeluk agama tidak lagi berpegang teguh pada esensi dan hakikat ajaran agamanya, melainkan bersikap fanatik pada tafsir kebenaran versi yang disukainya, dan terkadang tafsir yang sesuai dengan kepentingan politiknya. maka, konflik pun tidak terelakkan,” jelasnya

Acara workshop ditutup oleh Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah Ditjen Bimas, Muharam Marzuki, beliau berpesan agar peserta mempraktikan, menerapkan modererasi beragama dalam diri kita sendiri, kehidupan keluarga, masyarakat dan ketika melayani masyarakat di KUA masing-masing.

Yani sebagai peserta menyampaikan terima kasih karena merupakan salah satu dari seratus yang diberikan kesempatan untuk mengikuti. “Workshop ini membuat saya harus harus lebih bijaksana, lebih moderat dan bersemangat menebarkan kedamaian demi Indonesia yang rukun  serta mempunyai kewajiban menularkan pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh,” pungkasnya (yn/ak)