Banjarnegara (Humas) – Forum Wakil Kepala Urusan Akademik Madrasah Tsanawiyah Kementerian Agama Kabupaten Banjarnegara menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi KMA 1503 Tahun 2025 sekaligus In House Training (IHT) Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), Deep Learning, dan Kokurikuler pada Rabu (26/11). Acara yang bertempat di RM Sari Rahayu Banjarnegara ini diikuti oleh seluruh wakil kepala urusan kurikulum MTs, termasuk Waka Kurikulum MTs Negeri 1 Banjarnegara, Hj. Yuniyati.
Kegiatan dimulai pukul 08.30 WIB dengan pembukaan, menyanyikan Indonesia Raya dan Mars Madrasah, serta doa bersama. Pada kesempatan tersebut hadir para pengawas MTs/MA, yakni Hj. Nurlaela Isnaeni, Hj. Noor Farida, dan Hj. Ely Sukasih, ketiganya menjadi narasumber utama.
Dalam sambutan pembukaan mewakili KKMTs Banjarnegara, H. Anton Zaeni Noor, menegaskan bahwa wakil kepala urusan akademik memiliki peran penting dalam setiap transformasi regulasi pendidikan. Menurutnya, wakakur adalah “punggawa terdepan” yang memastikan seluruh kebijakan baru dipahami dan disebarkan ke madrasah masing-masing. Ia juga menekankan pentingnya memanfaatkan forum tersebut untuk menggali ilmu dan memperkuat kompetensi kurikulum.
Dalam sesi pertama, Pengawas MTs/MA Hj. Nurlaela Isnaeni, memaparkan substansi KMA 1503 Tahun 2025 yang memperbarui KMA 450 Tahun 2024. Ia menjelaskan bahwa hadirnya regulasi baru ini tidak menuntut perubahan dokumen kurikulum, karena dokumen yang disahkan pada Juli 2025 tetap berlaku dengan penyesuaian implementasi.
Nurlaela menekankan bahwa KBC kini masuk dalam pembelajaran Deep Learning, sementara dalam Rapor Madrasah, komponen P5RA tidak lagi dicantumkan dan dialihkan ke kegiatan kokurikuler. Ia juga menjelaskan penegasan struktur kurikulum seperti kolaborasi lintas disiplin, kewajiban minimal ekstrakurikuler kepramukaan, dan penambahan mata pelajaran koding dan AI pada Fase C.
Pada sesi kedua, Hj. Noor Farida, memaparkan karakteristik utama pembelajaran mendalam (Deep Learning) yang menekankan pemahaman konseptual, aplikasi nyata, dan keterlibatan aktif siswa. Ia menyoroti tiga pilar KBC–Deep Learning:
1. Mindful learning – belajar sadar dan reflektif
2. Meaningful learning – mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari
3. Joyful learning – menghadirkan pembelajaran yang menggembirakan
Menurut Farida, transformasi besar yang dibutuhkan adalah perubahan peran guru menjadi fasilitator dan sahabat belajar, bukan sekadar penyampai materi.
Sesi ketiga disampaikan oleh Hj. Ely Sukasih, yang menjelaskan bahwa mulai 2025 kegiatan kokurikuler secara resmi menggantikan P5 dalam Kurikulum Merdeka. Kokurikuler dirancang lebih fleksibel, tidak harus berbentuk proyek, dan dapat berupa kegiatan yang memperluas pemahaman siswa serta menghubungkan teori dengan praktik.
Ia juga memaparkan lima pilar Diary Petualangan Panca Cinta, yakni cinta Allah dan Rasul, cinta ilmu, cinta alam, cinta diri dan sesama, serta cinta tanah air.
Dalam sesi tanya jawab, Hj. Yuniyati, menyampaikan sejumlah pertanyaan teknis terkait pengisian rapor, jam kokurikuler yang berbeda pada tiap jenjang, serta jumlah proyek dalam satu tahun. Ia menegaskan pentingnya kejelasan struktur agar madrasah dapat menjalankan implementasi dengan efektif. Narasumber menjelaskan bahwa penyeragaman proyek dimungkinkan selama sesuai konteks peserta didik.
Ketua KKMTs Banjarnegara Natir, dalam penguatannya, menegaskan bahwa implementasi KBC dan Deep Learning harus sudah diterapkan pada semester genap 2025/2026. Ia juga menekankan pentingnya validasi kurikulum oleh pengawas madrasah serta sosialisasi program madrasah kepada komite dan wali siswa.
Kegiatan ditutup dengan harapan agar seluruh wakakur mampu membawa pulang ilmu baru dan mengimplementasikannya demi peningkatan kualitas pembelajaran di madrasah masing-masing. (Lin/La)







