Tembus Batas Keterbatasan, Penyuluh KUA Pagentan Ajak KPM PKH Kayuares Bangun “Rumah Tangga Surga”

Banjarnegara (Humas) – Suasana khidmat sekaligus penuh kehangatan menyelimuti kediaman Juwarti, salah satu Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) di Desa Kayuares, Kecamatan Pagentan. Pada Kamis pagi (4/6/2026), tepat pukul 09.00 WIB, puluhan ibu-ibu peserta PKH berkumpul untuk mengikuti kegiatan bimbingan dan penyuluhan keagamaan yang diselenggarakan oleh Kantor Urusan Agama (KUA) Pagentan.

Hadir sebagai narasumber utama, Penyuluh Agama Islam Fungsional KUA Pagentan, Alfiana Nurhidayah, Dalam kesempatan kali ini, ia membawa tema yang sangat menyentuh hati dan relevan dengan kondisi jamaah, yaitu “Mengetuk Pintu Langit dari Rumah Sederhana: Merajut Bait Rezeki dan Keharmonisan Keluarga”.

Kegiatan ini juga dihadiri dan dikawal langsung oleh Pendamping PKH Desa Kayuares, Niken Saraswati, yang memberikan dukungan penuh terhadap integrasi program penguatan ekonomi dan mental-spiritual bagi warga binaannya.

Menjadikan Rumah Sederhana Penuh Berkah

Dalam penyampaian materinya yang lugas namun menyentuh, Alfiana Nurhidayah mengajak para ibu peserta PKH untuk mendefinisikan ulang arti kebahagiaan dan kekayaan dalam rumah tangga. Menurutnya, sebuah rumah tidak diukur dari kemegahan bangunannya, melainkan dari hidupnya nilai-nilai spiritual dan rasa syukur di dalamnya. Ia membedah konsep Baiti Jannati (Rumahku Surgaku) yang bisa diwujudkan oleh siapa saja, tanpa memandang status sosial ekonomi.

“Rumah yang berkah bukanlah rumah yang tanpa ujian ekonomi, melainkan rumah yang di dalamnya senantiasa terdengar lantunan ayat suci, ada rida suami, dan ketulusan istri dalam mengasuh anak. Bantuan PKH dari pemerintah adalah ikhtiar lahiriah, namun ketakwaan dan rasa syukur kitalah yang akan mengetuk pintu langit agar rezeki yang sedikit itu menjadi berkah, mencukupi, dan membawa ketenangan,” tutur Alfiana Nurhidayah di hadapan para peserta yang menyimak dengan penuh khusyuk.

Alfiana juga menekankan pentingnya manajemen emosi dalam keluarga. Ia mengingatkan bahwa keharmonisan orang tua adalah modal utama dalam membentuk karakter anak yang saleh dan saleha, yang kelak mampu mengangkat derajat keluarga.

Kolaborasi Spiritual dan Pemberdayaan Sosial

Di sisi lain, kehadiran Pendamping PKH Desa Kayuares, Niken Saraswati, menambah bobot pentingnya acara ini. Sinergi antara penyuluh agama dan pendamping sosial dinilai sebagai langkah strategis untuk mempercepat graduasi mandiri bagi para peserta PKH, tidak hanya mapan secara materi tetapi juga matang secara mental.

“Kami sangat mengapresiasi kehadiran Ibu Alfiana Nurhidayah dari KUA Pagentan. Selama ini kami berfokus pada pendampingan bantuan fisik dan kemandirian ekonomi. Namun, materi keagamaan seperti ini adalah suplemen jiwa yang sangat luar biasa. Ibu-ibu menjadi lebih optimis, tidak mudah mengeluh, dan memiliki spiritualitas yang kuat untuk mengubah nasib keluarga mereka menjadi lebih baik,” ujar Niken Saraswati di sela-sela acara.

Juwarti selaku tuan rumah mengaku sangat terharu dan bangga rumah sederhananya bisa dijadikan tempat berkumpul untuk menuntut ilmu. Ia berharap kegiatan seperti ini bisa rutin dilaksanakan karena sangat berdampak positif bagi ketenteraman jiwa para ibu di Desa Kayuares.

Kegiatan bimbingan yang berlangsung dinamis ini diakhiri pada siang hari dengan sesi diskusi interaktif, ramah tamah, serta doa bersama yang dipimpin langsung oleh Alfiana Nurhidayah untuk keselamatan, keberkahan, dan kemudahan rezeki bagi seluruh warga Desa Kayuares.

(an/azd)

Skip to content