Banjarnegara (Humas) – Pembelajaran Tahfizh Al-Quran merupakan suatu proses memelihara dan menjaga kemurnian Al-Quran dengan cara menghafal sedikit demi sedikit yang telah dibaca berulang-ulang baik dengan membaca ataupun mendengar. Proses menghafal siswa tentu memiliki perbedaan di setiap siswa. Perlu adanya usaha dan dukungan siswa, guru ataupun orang tua untuk selalu tumbuh rasa cinta kepada Al-Quran yang tentu kemanfaatannya dirasakan di dunia ataupun di akhirat. Seperti halnya yang dilakukan di MI Maarif Al Falah Joyokusumo yang terbiasa membaca Al-Quran dan ada mata Pelajaran khusus yaitu Tahfizh.
Mata Pelajaran Tahfizh tentu sudah tidak asing lagi dan banyak madrasah yang menambahkan program tahfizh menjadi program unggulan, Sebagai program unggulan di Mimau, tentu ingin menjadikan seluruh siswa menjadi seorang Hafizh dan hafizhah yang nantinya bisa menjadi suatu kebanggan tersendiri untuk orang tua, guru dan lingkungan sekitar. Namun, dengan kemampuan siswa dalam menghafal beragam, maka perlu inovasi dari guru Tahfizh untuk menumbuhkan giat untuk selalu menghafal dan murojaah hafalannya.
Farida Fitriana selaku wali kelas V B menyampaikan bahwa pelajaran Tahfizh perlu adanya modifikasi dan perubahan dalam mengajar ke siswa. Hal ini berkaitan dengan suasana hati siswa yang terkadang merasakan kemalasan untuk menghafal. Menghindari hal itu maka pembelajaran tahfizh harus mengalami next level dengan cara yang berbeda. Maka disebutkan pembelajaran Tahizh ini sebagai Cerdas Cermat Tahfizh. Tujuan pembelajaran ini diharapkan mampu mengasah hafalan peserta didik dan melatih ketangkasan serta ketajaman mendengar instruksi dari guru.
“Demi meningkatkan rasa semangat siswa dalam menghafal ayat-ayat Al-Quran, maka pembelajaran tahfizh kali ini berbeda dengan membentuk small circle dengan bantuan kertas warna-warni dan bermain secara berebut untuk menjawab yang tercepat. Terlebih untuk semester satu, kelas V diwajibkan hafal surah pilihan yaitu surah Al-Waqiah.” ucap Bu Farida saat mengajarkan tahfizh di hari Rabu kemarin (7/8)
Rangkaian kegiatan pembelajaran tahfizh ini diawali dengan guru membagikan potongan kertas berwarna merah, kuning, hijau, biru dan merah muda secara acak kepada siswa. Kemudian siswa secara menyatu sesuai dengan warna yang sama. Tidak lupa, guru mengarahkan peserta didik untuk membentuk lingkaran kecil sebagai suatu kelompok per masing-masing warna. Melatih konsentrasi dan ketangkasan siswa, guru secara bergantian membacakan soal tahfizh seperti sambung ayat, dan tebak ayat dalam surah Al-Waqiah. Seperti halnya permainan cerdas cermat, ketika mengacungkan jari tercepat maka kelompok tersebut berhak menjawab soal. Sebagai daya pikat siswa, kelompok yang berhasil mendapatkan poin tertinggi maka berhak mendapatkan reward dari guru.
Adhelani, salah satu siswa kelas V B menyampaikan pembelajaran tahfizh perlu sesuatu yang baru dan tentu dapat menambah semangat untuk terus menerus menghafal ayat-ayat Al-Quran.
“Hal yang baru bagi saya untuk bisa menghafal ayat Al-Waqiah dengan permainan cerdas cermat ini. Permainan ini sangat membantu saya dan teman-teman untuk menghafal, terlebih lagi jika kelompok menang maka akan mendapatkan reward dari guru. Itu sangat memacu semangat saya dan teman-teman untuk menjadi kelompok yang terbaik.” ungkap Adhelani. (Ad/La)







