Bermuhasabah Dengan Musibah

Banjarnegara pernah menjadi perhatian penduduk Indonesia dengan adanya bencana tanah longsor di Jemblung-Karangkobar. Bencana menurut informasi terjadi dengan terjadinya hujan terus menerus di tambahkan kondisi kultur dari tanah di lokasi tersebut. Bencana juga terjadi berbagai daerah Indonesia selang beberapa waktu. Semua itu termasuk bencana alam yang diakibatkan oleh ulah manusia, sebagaimana telah tersirat dalam Al-Qur'an Arrum ayat 41.

Terkait bencana, dahulu bencana terjadi seperti banjir, tanah longsor, kebakaran dan lain-lain yang diakibatkan oleh tangan manusia secara langsung. Namun sekarang ini bencana yang sedang melanda adalah bencana sosial. Bencana sosial lebih meningkat drastis dibandingkan dengan bencana sosial, seperti perkosaan, pembunuhan dan sejenisnya.

Kalau kita sedikit merenung, kenapa itu terjadi? Kenapa kita tidak ikut berbuat tapi terkena imbas dari bencana tersebut? Bencana terjadi memang sudah menjadi takdir Allah SWT, namun sebenarnya bisa kita telusuri penyebabnya dan mengambil hikmah dari bencana tersebut.

Bencana juga termasuk ujian, tidak hanya bagi mereka yang bersalah. Di Banjarnegara juga terjadi bencana di Clapar-Madukara yang tanahnya ambles. Dengan intensitas hujan tinggi di banjarnegara, tanah longsor menimpa beberapa titik di kecamatan Pandanarum yang terjadi di awal bulan Puasa ini.

Dimungkinkan terjadinya bencana bisa dikarenakan perbuatan dosa dan maksiat yang terjadi di suatu daerah, dan cara Allah mengingatkan kepada kita. Mungkin kita juga tidak berbuat, tetapi “percaya tidak percaya” kita bisa termasuk andil terhadap bencana yang terjadi. Dicontohkan kita membiarkan suatu kemaksiatan terjadi tetapi kita membiarkannya, kita terus saja berbuat fitnah dan kemungkaran dalam hidup bermasyarakat, bahkan mungkin kita menambah dosa dengan ikut berbuat kejahatan.

Sebenarnya Allah SWT sudah memerintahkan kepada orang yang tahu dan berilmu, sebagaimana dalam Al-Qur'an jika terdapat kemungkaran kita harus bisa memberantas, mencegah sesuai dengan kemampuan kita yang dikenal dengan istilah “ber-amar Ma'ruf Nahi mungkar”.

Mari kita berbuat untuk menjaga alam dan terhindar dari bencana dengan berbuat walau dengan skala kecil. Dengan tidak berbuat maksiat meraja lela, kemungkaran di berantas dan lain sebagainya. Tidak ketinggalan mari membuka mata hati kita dengan peka diingatkan, dibimbing, dan diberi rambu-rambu atas segala sesuatu yang tidak berjalan sebagaimana fitrah dari Tuhan semesta alam.

Demikian tausiah kultum yang disampaikan pada hari ke-3 yang disampikan oleh Kasi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kantor Kementerian Agama kabupaten Banjarnegara di Masjid Al-Ikhlas, Rabu ini (08/06). (Nangim)