Menyongsong Pemilu Kada dengan Deradikalisasi

Banjarnegara beberapa bulan lagi akan melaksanakan Pemilukada, untuk memilih Bupati dan Wakil Bupati. Suhu politik yang memanas perlu untuk disikapi secara bijak dan positif. Tidak terkecuali para pendukung paslon (pasangan calon).

Untuk menyikapi masalah tersebut, Pemerintah Daerah Selasa ini (2/11), mengundang Pasangan Calon, Forkominda, Dandim, KPUD, Pengawasa Pemilu, Kemenag, FKUB, Ormas Islam, dan Takmir Masjid pada acara Pengajian Takmir Masjid di Aula Setda Kabupaten. Dengan tema “Deradikalisasi dalam Mensukseskan Pemilukada Kabupaten Banjarnegara Tahun 2017” pemerintah berharap bisa menyongsong perhelatan pemilihan pimpinan dengan jiwa pengendalian diri, tidak mengedepankan emosi tapi rasio dan rasa.

“Munculnya radikalisme akan membahayakan kehidupan berbangsa dan bernegara”, jelas Sekda, Fahruddin Susiadi dalam pembukaan pengajian. Negara Indonesia adalah negara berdasar Pancasila dengan 5 dasar yang sudah paten di tegakkan pendiri bangsa ini.

Fahruddin Susiadi memaparkan, bahwa munculnya masalah bangsa bisa menjadi ancaman. Kita harus bisa menjadi pilar kehidupan sosial, dengan menjaga sendi-sendi kehidupan dengan baik dan dengan pendekatan sosial masyarakat Indonesia yang majemuk.

Munculnya paham radikal di masyarakat perlu di sikapi dengan serius. Demi untuk menanggulangi hal tersebut telah di Ikrarkan Nota kesepahaman yang ditandatangani pihak Kepolisian, Kementerian Agama dan Tokoh masyarakat pada tanggal 28 Agustus 2016 di Aula Kantor Kemenag Kabupaten Banjarnegara.

Diharapkan 3 bulan ke depan kampanye dalam kehangatan, kebersamaan, dan iklim kondursif. Tidak ada rasa takut para pemilih datang ke TPS saat pencoblosan.

Tausiah diisi oleh KH. Syafi dari Penyelenggara Syariah Kantor Kemenag Kabupaten Banjarnegara. Pemimpin adalah jabatan bergengsi di dunia dan akhirat. Pejabat/pemimpin soleh dan adil, dia akan mendapatkan kemuliaan di dunia dan di akhirat. “Dipastikan masyarakat berharap mendapatkan pemimpin yang adil dan amanah, dan semoga itu berada pada jiwa calon pemimpin Banjarnegara”, tegas KH. Syafi.

 

Sesi paparan juga disampaikan oleh Kapolres, Saiful Anwar yang menegaskan bahwa dalam memerangi radikalisme di setiap lini kehidupan bukan hanya tanggung jawab Polisi ataupun TNI saja, tapi butuh sinergi para pemuka agama, pemeluk agama, dan masyarakat. “Tidak ketinggalan, peningkatan kewaspadaan masyarakat terhadap kondisi sosial, ekonomi, hubungan horisontal agar radikalisme di lingkungan bisa segera di deteksi, di tanggulangi dengan melaporkan kepada pihak yang berwajib” pesannya (Nangim).